oleh : Muhammad Kunta Biddinika*
Kamis, 8 Mei 2008 dinihari, terjadi gempa bumi yang relatif besar di Jepang. Pusat gempa diperkirakan terjadi di lepas pantai prefektur Ibaraki dengan kedalaman sekitar 40 km di bawah permukaan laut.
Goncangan tercatat sebanyak 5 kali terjadi antara pukul 01.06 hingga 01.54 waktu setempat. Magnitude gempa tercatat oleh Badan Meteorologi Jepang berkisar dari 6.2 hingga 6.7 skala Richter.
Meski demikian, dari kota Yokohama, sekitar 100 km dari Ibaraki, getaran dirasakan tidak begitu kuat meski cukup terasa. Paling tidak jika dibandingkan dengan getaran yang dirasakan di kota Jogjakarta ketika terjadi gempa pada 27 Mei 2006. Namun intensitasnya lebih sering dan durasi terjadinya goncangan seperti terasa lebih lama.
Tidak terjadi kepanikan saat gempa terjadi. Meski tidak juga dapat dipastikan apakah orang-orang Jepang sudah tidak merasa takut lagi dengan gempa mengingat sedemikian seringnya Jepang dilanda gempa. Yang jelas, ketika gempa terjadi berulang-ulang itu tidak terdengar hiruk-pikuk orang-orang yang panik apalagi jeritan dan teriakan.
Bisa jadi saat itu orang-orang masih terlelap dalam tidurnya sehingga gempa yang terjadi tidak begitu terasa. Tetapi yang juga sangat mungkin adalah, orang Jepang memang sudah sangat antisipatif dan tidak menyepelekan hal sekecil apapun yang berkaitan dengan gempa. Pendeknya, mereka bersahabat dengan gempa yang memang sudah akrab dengan kehidupannya.
Orang Jepang telah dibiasakan dengan berbagai latihan penanggulangan gempa. Secara berkala, lingkungan pemukiman, termasuk juga kantor dan sekolah, menyelenggarakan simulasi evakuasi jika terjadi gempa atau kebakaran.
Jalur-jalur evakuasi selalu tersedia di setiap bangunan dan bisa dengan mudah dilihat oleh orang yang masuk ke gedung itu. Peta evakuasi di gedung maupun di lingkungan pemukiman tersedia dengan mudah. Termasuk petunjuk dimana tempat-tempat yang menjadi ajang berkumpul saat evakuasi dan bagaimana menuju ke sana.
Di sekolah-sekolah, latihan evakuasi gempa dilakukan lengkap sejak bersembunyi di bawah meja belajar untuk sementara sebelum keluar dari gedung. Setelah itu bagaimana keluar dari gedung itu. Saat keluar pun dengan cara yang sudah diajari sebelumnya yaitu dengan melindungi kepala dengan apa saja yang dapat melindungi dari jatuhan benda-benda yang rawan jatuh setelah diguncang gempa.
Tidak sampai disitu saja. Di tiap rumah, bahkan di kamar-kamar asrama, dianjurkan untuk menyiapkan persediaan makanan dan minuman tahan lama yang siap santap dan terbungkus rapi dalam satu paket.
Jika suatu saat terjadi gempa dan harus keluar rumah, tinggal mengangkat paket tersebut sambil menuju ke tempat evakuasi. Makanan dan minuman tadi paling tidak bisa untuk bertahan hidup beberapa hari sampai bantuan datang.
Di beberapa toko, malahan dijual tas-tas yang telah terisi dengan berbagai perlengkapan bertahan hidup jika evakuasi akibat gempa mesti dilakukan. Di dalamnya terdapat makanan kalengan tahan lama, botol tempat minum, obat-obatan ringan, batu baterei, bahkan ada kalanya radio transistor kecil.
Tas lengkap dengan isinya tadi diletakkan di tempat-tempat yang mudah dijangkau ketika keluar rumah. Kadang diletakkan juga helm dengan penerangan kecil di depannya seperti yang biasa dipakai oleh pekerja tambang bawah tanah.
Di kota-kota besar, sumber air pemukiman atau di gedung-gedung adalah dari pipa-pipa perusahaan penyedia air minum. Bukan dari sumur-sumur pribadi yang bisa terdapat di tiap rumah sebagaimana jamaknya di Indonesia.
Hampir tidak pernah ditemukan adanya sumur air di sana. Bahkan di tempat-tempat umum, seperti stasiun, taman, gedung, bahkan pinggir jalan terdapat kran-kran air minum yang bisa dengan bebas dimanfaatkan ketika haus.
Kondisi tadi membuat persediaan air minum ketika terjadi gempa menjadi vital karena pipa-pipa air minum tadi rawan putus oleh gempa. Akibatnya, suplai air minum bisa terhenti. Berdasarkan catatan, kemampuan manusia untuk bertahan tanpa minum lebih pendek dibandingkan tanpa makan.
Oleh karena itu, persediaan air minum dalam botol-botol adalah tindakan antisipasi yang sangat penting di Jepang. Tidak jarang di beberapa titik di daerah pemukiman, terlihat botol-botol berisi air minum. Yang kerap terlihat, botol-botol tadi diikatkan di bagian bawah tiang listrik atau telepon yang biasa terpasang di pinggir jalan.
Apapun tindakan yang dilakukannya, sangat jelas bahwa orang Jepang sangat antisipatif dalam menghadapi gempa. Selain itu, mereka tidak mudah menyepelekan hal-hal kecil terkait dengan keselamatan manusia dari bahaya gempa. Latihan-latihan yang bagi sebagian orang mungkin dianggap membosankan ataupun menggelikan, tetap diadakan secara periodik dan diikuti juga dengan penuh antusias.
Bagaimana tidak membosankan kalau hal yang sama dan sepele dilakukan berulang-ulang. Bagaimana tidak menggelikan kalau harus berjalan cepat, kadang berlari kecil, melalui jalur evakuasi sambil memegangi di atas kepala benda apa saja yang bisa dipakai untuk melindungi kepala dari jatuhan benda-benda. Sementara benda pelindung tadi bisa hanya berupa buku tebal, tutup ember, maupun papan tulis kecil.
Tidak mungkin memindah lokasi tempat tinggal kita dari daerah rawan gempa. Namun kita bisa mengusahakan supaya kita bisa lebih bersahabat dengan gempa. Tetapi sangat sulit untuk bisa bersahabat dengan gempa tanpa menjadikan sikap antisipatif sebagai pilihan sebagaimana halnya memilih untuk tidak mudah menyepelekan hal-hal kecil.
*warga Jogjakarta dan bekas relawan gempa di Bantul, sedang belajar di Jepang
Senin, 25 Januari 2010
Bersahabat dengan Gempa
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar