Majalah Time baru saja melansir edisi akhir tahunnya yang mengangkat Vladimir Putin sebagai person of the year 2007. Disebutkan bahwa Putin telah berhasil membawa Federasi Rusia pada kebangkitannya kembali setelah jatuhnya Uni Soviet. Uni Soviet pernah menjadi poros kekuatan dunia disamping Amerika Serikat. Keduanya merupakan negara adidaya yang masing-masing membentuk poros negara-negara sekutunya. Poros Uni Soviet (Blok Timur) merupakan negara-negara sosialis/komunis, sementara poros Amerika Serikat (Blok Barat) adalah negara-negara kapitalis atau negara-negara yang berada di bawah ketiak Amerika Serikat.
Pasca jatuhnya rezim komunis, Uni Soviet yang berubah menjadi Republik Federasi Rusia, juga mengalami perubahan besar -kalau tidak boleh disebut kemunduran- dalam banyak sektor kehidupannya. Harga-harga melambung tinggi, kriminalitas yang disponsori gangster bersenjata, penyelundupan alat-alat perang bekas Uni Soviet, maupun upaya-upaya pelepasan diri oleh negara-negara federasinya. Pendek kata, Rusia menjadi carut-marut pasca jatuhnya Uni Soviet.
Putin dinilai oleh TIME mampu mengangkat kembali Rusia dari kemundurannya pasca-komunis menjadi kekuatan dunia yang patut diperhitungkan kembali. Sebagai bekas agen KGB (Dinas Rahasia era Uni Soviet) yang ditempatkan paling banyak di Jerman, Putin dikenal sebagai sosok yang dingin, tidak banyak senyum, pelit komentar, tetapi brilian dalam taktik dan strategi.
Selain itu, yang terpenting adalah ternyata Putin juga membaca Bible. Dalam sebuah wawancara dengan TIME setelah dipilihnya dia sebagai person of the year, pewawancara menanyakan sebuah pertanyaan menggelitik mengenai kepercayaannya terhadap agama. Sebenarnya bukanlah pertanyaan yang disengaja saat pewawancara menanyakan "Apakah Anda percaya pada Tuhan?". Kemudian dibalas oleh Putin dengan balik bertanya "Bagaimana dengan Anda?". Saat itu Putin mengutip pernyataan yang ada dalam Bible "Thou shalt not steal". Berkaitan dengan kepercayaannya terhadap agama, Putin menambahkan bahwa "Kita musti teratur dalam kerangka common sense, dan common sense ini mesti berdasar pada prinsip moralitas, dan tidak mungkin memisahkan moralitas dari nilai-nilai agama.
Meski agama adalah privasi bagi setiap orang, tetapi menarik untuk menyimak pendapat Putin tentang agama meski menolak untuk lebih jauh membicarakannya. Bagaimanapun, keberagamaan adalah naluri (fitrah) dari manusia. Hubungannya yang mendalam dengan penciptanya -diakui atau tidak- akan dirasakan bahkan oleh orang sekelas Vladimir Putin, pemimpin negara besar komunis.
The Daily Yomiuri pada halaman mukanya hari ini (25 Desember 2007), menampilkan foto utama yang menggambarkan sebuah gereja di Jakarta yang sedang discreening oleh personil Gegana Brimob sehari sebelum puncak peringatan Natal 2007. Disebutkan pula dalam caption-nya bahwa inspeksi tersebut adalah bentuk pengamanan dari ancaman terorisme. Belum lama, terjadi juga kekerasan di Palestina oleh tentara zionis Israel yang mengamankan para demonstran yang berusaha menghentikan renovasi bangunan bersejarah bagi agama Yahudi di dekat Masjidil Aqsa. Renovasi tersebut dikhawatirkan akan menimbulkan kerusakan baru pada dinding Masjidil Aqsa.
Di tengah makin maraknya berita-berita penggunaan label agama untuk kegiatan yang tidak mencerminkan semangat keberagamaan, kiranya ungkapan TIME's person of the year 2007 tersebut patut direnungkan dalam-dalam.
Read more!
Putin dinilai oleh TIME mampu mengangkat kembali Rusia dari kemundurannya pasca-komunis menjadi kekuatan dunia yang patut diperhitungkan kembali. Sebagai bekas agen KGB (Dinas Rahasia era Uni Soviet) yang ditempatkan paling banyak di Jerman, Putin dikenal sebagai sosok yang dingin, tidak banyak senyum, pelit komentar, tetapi brilian dalam taktik dan strategi.
Selain itu, yang terpenting adalah ternyata Putin juga membaca Bible. Dalam sebuah wawancara dengan TIME setelah dipilihnya dia sebagai person of the year, pewawancara menanyakan sebuah pertanyaan menggelitik mengenai kepercayaannya terhadap agama. Sebenarnya bukanlah pertanyaan yang disengaja saat pewawancara menanyakan "Apakah Anda percaya pada Tuhan?". Kemudian dibalas oleh Putin dengan balik bertanya "Bagaimana dengan Anda?". Saat itu Putin mengutip pernyataan yang ada dalam Bible "Thou shalt not steal". Berkaitan dengan kepercayaannya terhadap agama, Putin menambahkan bahwa "Kita musti teratur dalam kerangka common sense, dan common sense ini mesti berdasar pada prinsip moralitas, dan tidak mungkin memisahkan moralitas dari nilai-nilai agama.
Meski agama adalah privasi bagi setiap orang, tetapi menarik untuk menyimak pendapat Putin tentang agama meski menolak untuk lebih jauh membicarakannya. Bagaimanapun, keberagamaan adalah naluri (fitrah) dari manusia. Hubungannya yang mendalam dengan penciptanya -diakui atau tidak- akan dirasakan bahkan oleh orang sekelas Vladimir Putin, pemimpin negara besar komunis.
The Daily Yomiuri pada halaman mukanya hari ini (25 Desember 2007), menampilkan foto utama yang menggambarkan sebuah gereja di Jakarta yang sedang discreening oleh personil Gegana Brimob sehari sebelum puncak peringatan Natal 2007. Disebutkan pula dalam caption-nya bahwa inspeksi tersebut adalah bentuk pengamanan dari ancaman terorisme. Belum lama, terjadi juga kekerasan di Palestina oleh tentara zionis Israel yang mengamankan para demonstran yang berusaha menghentikan renovasi bangunan bersejarah bagi agama Yahudi di dekat Masjidil Aqsa. Renovasi tersebut dikhawatirkan akan menimbulkan kerusakan baru pada dinding Masjidil Aqsa.
Di tengah makin maraknya berita-berita penggunaan label agama untuk kegiatan yang tidak mencerminkan semangat keberagamaan, kiranya ungkapan TIME's person of the year 2007 tersebut patut direnungkan dalam-dalam.
